Esensi Peringatan Maulid Nabi Hari Ini

oleh
ESENSI PERINGATAN MAULID NABI HARI INI
SantriNow | Bagi Umat Islam, Nabi Muhammad SAW memiliki posisi yang unik. Muhammad Iqbal dalam Syair agungnya mencatat, “Tuhan dapat kau ingkari/namun nabi tidak…! Serupa darah yang mengalir dalam napas umatnya.” Misalnya, ketika Nabi Muhammad SAW dinistakan, selalu mengundang reaksi keras dari seluruh umat Islam, seperti karikatur Jyllands-Posten di Denmark. Umat Islam di Mesir, Yaman, Inggris, Australia, Tunisia, Palestina, Maroko, Malaysia, Indonesia, dan lainnya serentak unjuk rasa.

Mereka secara erat disatukan melalui emosi dan kepekaan yang sama. Nabi Muhammad SAW dalam memori kolektif umat Islam tidak hanya diyakini sebagai nabi terakhir, tetapi juga dinobatkan sebagai rujukan moral dan muara seluruh keteladanan.

Makna “nur Muhammad” menjadi “tali penghubung” antara masa lalu, hari ini, dan masa depan dalam sebuah bayangan tentang hadirnya kehidupan yang berada dalam terang cahaya kewahyuan, seperti secara historik dicontohkan Muhammad SAW 1.400 tahun lampau.

Esensi Maulid

Maka, menjadi sangat bisa dipahami kalau setiap tahun, hari kelahirannya selalu diperingati umat Islam di berbagai belahan dunia dengan tradisi masing-masing. Cuplikan kelahirannya ditulis dalam berbagai kitab dalam bentuk prosa dan puisi, dalam wujud natsar dan syair. Atau, dalam bentuk buku utuh seperti dilakukan Husain Haikal dalam Hayat Muhammad (1935), Amir Ali lewat The Spirit of Islam (1922), Khawaja Kamaluddin melalui The Ideal Prophet (1925), dan Hafi dz Ghulam Sarwar mengeluarkan buku Muhammad the Holy Prophet (1949).

Upacara yang dilakukan secara ber ulang-ulang maksudnya tidak lain sebagai satu bentuk kerinduan menghadirkan spirit kenabian pada hari ini, justru ketika zaman semakin melenceng dari fitrahnya. Kini kemanusiaan kian tersekap dalam nafsu culas dan tabiat kebinatangan yang menyeruak menjadi arus utama dasar kemanusiaan kita.

Nabi Muhammad SAW dalam upacara Maulid itu dikenang sebagai satu siasat mengenal diri. Dari perkenalan ini diharapkan kita bisa menciptakan konsep diri yang lebih murni dengan meneladani keagungan kiprahnya. Konsep diri berhubungan dengan sosial (membangun silaturrahmi di atas pijakan semangat persaudaraan), budaya (menjadikan pekerti sebagai jangkar utama dalam merakit kebudayaan), ekonomi (mengelola ekonomi dengan spirit menyalurkan keadilan yang merata kepada semua pihak), politik (mengembangkan sikap terbuka, toleran, dan membentuk keutamaan publik).

Konsep diri pangkalnya ditancapkan di atas haluan utama sistem kepercayaan Islam: pengakuan keesaan Tuhan dengan segala bentuk nilai moralitas sosialnya. Tuhan Yang Esa se hingga menihilkan sikap segala kekhawatiran; Tuhan Yang Agung yang menghadirikan rasa kedaifan kita; Tuhan Yang Kuasa yang membungkam tumbuhnya rasa jemawa; Tuhan Yang Abadi yang merasukkan perasaan kesementaraan kita; Tuhan Yang Kaya yang membikin kita tidak lupa daratan dengan kekayaan yang dititipkan-Nya;

Tuhan Sang Penguasa yang kuasanya mengakibatkan kita bisa mengelola kekuasaan dengan santun dan tidak kehilangan akal sehat.

Alhasil, mengenang Nabi Muhammad SAW melalui pintu Maulid adalah satu bentuk menyegarkan kembali ingatan tentang pentingnya hidup menemukan fitrahnya yang hakiki. Hidup yang tidak kehilangan marwahnya.[] Sialahkan nilai Tulisan ini !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.