Dilema UKT UINSA

oleh -

Kebijakan yang diambil pemerintah dalam rangka memberikan subsidi silang kepada mahasiswa berdasarkan kondisi ekonomi dan sosial orang tua/wali mahasiswa. Jadi, mahasiswa dalam melakukan pembayaran dikelompokkan berdasarkan besaran UKT yang diterima. Sehingga setiap mahasiswa menerima UKT yang berbeda, semua bergantung pada kemampuan perekonomian keluarga.

Sebelum calon mahasiswa diterima di UINSA biasanya mereka harus melakukan verifikasi terlebih dahulu. UKT baru ditentukan ketika proses verifikasi calon mahasiswa selesai. Artinya, data keluarga yang dibawa calon mahasiswa lah yang menentukan besaran UKT nantinya. Ada empat hal besar yang membuat UKT itu menjadi dilema.

Pertama, orang kaya yang mengaku dirinya miskin, dan si miskin malu mengakui kemiskinannya. Dalam verifikasi masuk perguruan tinggi ada celah calon mahasiswa baru melakukan manipulasi data yang dibawa. Kemungkinan ada calon mahasiswa yang berasal dari keluarga dengan ekonomi menengah atau bahkan menengah ke atas memperlihatkan data yang tidak valid.

Kedua, keluarga calon mahasiswa yang berasal dari keluarga ekonomi menengah ke bawah membawa data seadanya atau bahkan kemungkinan salah satu diantara mereka ada yang malu mengakui bahwa dirinya miskin. Sehingga mereka tidak meminta surat keterangan keluarga kurang mampu kepada perangkat desa/kelurahan, karena sungkan atau lebih tepatnya malu dianggap miskin.

Ketiga, kemungkinan data yang dibawa calon mahasiswa UINSA ketika verifikasi tidak semua disurvei langsung kebenarannya di lapangan. Sepertinya, UINSA belum memiliki tim yang bertugas menyurvei data keluarga calon mahasiswa yang dinilai miskin atau kaya ke lapangan.

Keempat, kemungkinan terjadi praktek nepotisme. Calon mahasiswa yang mempunyai hubungan kekerabatan dengan salah satu civitas akademika memohon untuk tidak memberikan UKT tinggi terhadapnya atau pemberian beasiswa yang didasari rasa kekerabatan.