Benarkah Nabi Marah Kalau Agama Allah Dihina?

oleh -

Apa maksudnya? Kita akan jelaskan di bawah ini setelah membahas tentang kutipan teks di atas.
Kedua, teks ini diriwayatkan dari Hindun bin Abi Halah . Siapa yang beliau? Abi Halah adalah suami Siti Khadijah sebelum menikah dengan Rasulullah SAW . Jadi Hindun itu adalah anak tiri Nabi Muhammad . Sewaktu Siti Khadijah menikah dengan Nabiyullah, Hindun ini merupakan remaja dan tinggal bersama Nabi Muhammad dan ibunda Siti Khadijah . Itulah sebabnya Hindun tahu persis seluk-beluk perilaku keseharian Nabi. Dalam riwayat panjang yang diceritakan Sayyid Thantawi , seperti yang akan saya jelaskan di bawah, Sayyidina Hasanbertanya kepada pamannya, yaitu Hindun bin Abi Halah tentang tokoh menyanyikan Datuk.

Ketiga, entah mengapa yang matiarkan di atas adalah teks ucapan Sayyid Thantawi , Mantan Agung Syekh al-Azhar dan Mufti Mesir, kok bukan teks Haditsnya langsung? Apa karena khawatir ada pertanyaan mengenai status hadits dari Imam al-Thabarani dan Imam al-Tirmidzi ? Maklum ada kecenderungan untuk menganggap hanya Hadits dari Bukhari-Muslim saja yang sahih. Tentu tidak demikian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam di Tirmidzi dengan lengkap dalam kitab asy-Syama’il. Saya tidak mengoreksi dalam kitab Sunan al-Tirmidzi . Kitab Syama’il ini berkisah tentang sosok Rasulullah SAW . Ini dalam konteks pembahasan tentang adab atau etika, bukan berkenaan dengan hukum agama. Kita bisa bandingkan kitab Syama’il ini dengan kitab Adab al-Mufrad yang ditulis oleh Imam Bukhari , selain beliau menulis kitab Sahih Bukhari yang terkenal itu.

Riwayat lengkap penuturan tentang akhlak Nabi ini juga dicantumkan oleh Ibn Katsir dalam kitab al Bidayah wan Nihayah (6/33). Sanad hadits ini dicari oleh al-Hakim dalam kitab al Mustadrak (3/640). Hadits itu juga dikeluarkan oleh Imam Thabarani dan Ibnu Asakir seperti yang ditemukan dalam kitab Kanzul Ummal (4/32) dan oleh Baghawi dalam kitab al-Ishabah (3/611).

Saya kutipkan teks yang digunakan untuk memahami konteks Pernyataan Hindun bin Abi Halah :

لا يتكلم في غير حاجة, طويل السكوت, يفتتح الكلام ويختمه بأشداقه, يتكلم بجوامع الكلم, فصل لا فضول ولا تقصير, دمث ليس بالجافي ولا المهين, يعظم النعمة وإن دقت لا يذم منها شيئا ولا يمدحه, ولا يقوم لغضبه إذا تعرض للحق شيء حتى ينتصر له.

“ Rasulullah SAW tidak mengatakan-kata kecuali seperlunya, beliau lebih sering diam. Beliau memulai dan menyudahi pembicaraan dengan sepenuhnya, dan tidak berbicara dengan bibir saja. Perkataannya singkat tetapi memiliki makna dan hikmah yang dalam. Tidak mencela dan tidak pula muntah dengan berlebihan. Tidak ada seorangpun yang bisa melawan jika ada kebenaran yang didustakan .

وفي رواية: لا تغضبه الدنيا وما كان لها, فإذا تعرض للحق لم يعرفه أحد, ولم يقيم لغضبه شيء حتى ينتصر له, لا يغضب لنفسه ولا ينتصر لها, إذا أشار أشار بكفه كلها, وإذا تعجب قلبها,

Dalam konteks lain mengatakan, ” Rasulullah SAW tidak marah yang menyebabkan duniawi, tetapi melakukan kebenaran didustakan, beliau SAW akan marah tanpa ada seorangpun yang bisa tegak dihadapan dia, dan beliau menjamin kebenaran itu.” Beliau tidak marah dengan kepentingannya sendiri, dan tidak pernah memberikan hukuman karena dia sendiri. Ketika dia menunjuk atau memberi isyarat ke arah sesuatu, beliau akan menunjuknya dengan seluruh telapaktiwa. Dalam beliau beliau tidakjub, beliau akan membalikan telapak Antik. ” Baca juga: Prof Sumanto Al-Qurtuby: Waspada! Kaum Bani Mercon Gemar Jualan SARA