di , , ,

Merasa Dizalimi, Muslimat NU Jatim Ungkap Fakta Surat Penugasan Sebenarnya

Merasa Dizalimi, Muslimat NU Jatim Ungkap Fakta Surat Penugasan Sebenarnya
Gambar: Santrinews

SantriNow xxx Ketua Muslimat Jatim, Nyai Masruroh merasa dirugikan terkait penggiringan opini mengenai surat penugasan kepada seluruh pimpinan cabang Muslimat NU yang sebenarnya tidak ada.

Masruroh menyayangkan terkait penyampaian pengantar acara pada pertemuan PW Muslimat NU dengan PWNU Jatim, di Kantor NU Jatim, Selasa, (13/3) kemarin yang menyebut bahwa surat itu dibuat untuk seluruh pimpinan cabang (PC).

“Rupanya ada pengantar yang salah dari pembawa acara dalam pertemuan kemarin, kayaknya saya ini membuat surat untuk seluruh cabang di Jatim, padahal tidak,” katanya.

Faktanya tidak ada satu surat paun yang dikirimkan ke seluruh PC Muslimat NU terkait sosialisasi apalagi sebagai pemenangan Khofifah, kecuali penugasan ke fungsionaris PC Muslimat NU Kabupaten Malang karena memang ada kondisi dan pertimbangan khusus. Baca juga: Cerita Cinta Santri Zaman X pada Sosok Khofifah yang Begitu Mendalam

“Cuma memberi tugas kepada Bu Anisah Mahfud dan Musrifah Hadi agar ikut sosialisasi ke Ancab dan ranting (tingkat desa). Sebab, ada kebuntuhan di sana setelah ketua cabangnya (Khofidah) merangkap tim sukses (Gus Ipul-Puti) walaupun sekarang sudah menyatakan mundur. Jadi itu ada kekhususan yang tidak terjadi di cabang lain,” jelasnya.

Ketua Muslimat NU Jatim Itu melanjutkan, kalau surat yang dibuatnya dianggap salah maka dia minta maaf atas nama pribadi, bukan atas nama Muslimat NU apalagi atas nama Ibu Khofifah.

“Saya katakan dalam pertemuan kemarin, kalau itu (surat) dianggap sebuah kesalahan, maka itu kekhilafan saya pribadi. Bukan salah siapa-siapa. Bukan salah pengurus, apalagi Bu Khofifah karena beliau tak tahu menahu soal itu,” katanya wartawan, Rabu (14/3).

“Tapi ya itu kemudian ada yang melintir-melintir sedemikian rupa. Ya enggak apa-apa karena yang terjadi tidak seperti (resume) yang disebar itu,” tandasnya sambil tersenyum.

Dalam pertemuan itu, bahkan PWNU tidak melarang jika Muslimat NU mendukung ketua umumnya di Pilgub Jatim 2018. Hanya saja, dalam mendukung jangan sampai memakai simbol organisasi yang bisa mengkerdilkan NU dan merusak ukhuwah Nahdliyah. “Itu saja dawuh dan penekanan para kiai, tidak ada larangan mendukung Bu Khofifah,” tegasnya

Enggan Balik Fakta
Ketika wartawan mencoba bertanya, bukankah bisa berapologi kalau kiai-kiai di struktural PWNU juga mendukung Gus Ipul-Puti? Masruroh menjawab bahwa hal itu tidak perlu, agar harmonisasi dengan PWNU tetap terjaga.

“Tidak, tidak! Sudahlah, kita ingin yang baik-baik saja. Kita ingin saling menghormati, karena Muslimat itu Banomnya NU. Sudah enggak ada yang perlu dipersoalkan,” katanya.

Pun ketika didesak, bukankah Masruroh bisa membalik fakta kalau Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah blak-blakan melakukan baiat relawan untuk pemenangan Gus Ipul-Puti di Ponpes Nurul Islam Jember, 25 Januari lalu?

“Sudahlah, enggak perlu diperpanjang. Muslimat NU tetap Banom NU. Tapi kalau ada  permintaan klarifikasi dari para kiai NU, ya kita legowo. Kita berhati besar untuk itu,” ucapnya [st]

BAGAIMANA MENURUT KAMU?