Makna Santri yang Hidup di Zaman X

oleh -
Makna Santri yang Hidup di Zaman X

Polemik antara ajaran Islam, jihad, dan nasionalisme mesti segera diakhiri dan menatap ke depan. Diskusi yang produktif justru yang harus dikembangkan. Kompetitor bangsa ini semakin maju ke depan dan membutuhkan akselerasi bangsa ini.

Seperti itulah seharusnya santri zaman X. Menjadi santri tak hanya belajar ngaji. Santri tak lagi cuma ilmu agama. Santri tak hanya bisa baca kitab kuning. Baca: Santri Tradisional yang Mengguncang Dunia Bernama Gus Dur

Adalah istilah lain dalam kehidupan santri zaman X di antaranya:

a# Santri Kedirian

Santri kedirian adalah santri yang berpegang teguh  terhadap pendiriannya. Ada sisi negatif dan positif yang terdapat dalam diri santri seperti ini. Tipe orang yang tidak suka diganggu dan juga tidak suka mengganggu. Saat santri sedang bosan atau tidak ada kegiatan, penyakit yang sering menghinggapi santri adalah kegalauan. Santri bisa lebih galau dibanding anda karena berada di tempat yang jauh dari keluarga, rindu ayah dan ibu, rindu sahabat yang ada di rumah dan suasana tanah kelahiran.

Dari sisi positif mengenai santri kedirian yaitu saat ditimpa suatu masalah akan lebih tenang  menyelesaikan masalahnya di tempat yang jauh dari keramaian. Selain itu, santri kedirian lebih percaya diri dibanding santri kekinian, karena tidak terombang-ambing oleh trend yang tersebar melalui sosial media.

b# Santri Kekinian

Santri kekinian adalah santri yang modern, terus mengikuti perkembangan zaman, tidak pasif dan cenderung terbuka. Santri golongan seperti ini juga memiliki sisi positif dan negatif.  Dengan aplikasi pembelajaran gadget  seperti Al-qur’an, nahwu shorof, dan beberapa kitab yang dijadikan aplikasi. Dari sisi negatif, santri korban trend masa kini. ketika santri diperbolehkan membawa gadget, di situlah santri menjadi korban gadget karena dengan menggunakan gadget pikiran akan bercabang ke situs lain walaupun tujuan utamanya adalah belajar.

Mau jadi santri yang kedirian atau kekinian yang penting sama-sama mencari ilmu yang bermanfaat dan merubah diri menjadi lebih baik dari sebelumnya. Hilangkan pemikiran atau pendapat orang lain, bahwa menjadi santri itu kuper,atau kudet. Menjadi santri justru memperbaiki pemikiran dan prilaku. [st]