Makna Santri yang Hidup di Zaman X

oleh -1.575 views
Makna Santri yang Hidup di Zaman X

SantriNow xxx Santri bukan sekedar yang mondok saja, tapi dia yang berjiwa santri dan bersifat santri, itulah santri yang sebenarnya. Di zaman milenial ini banyak pendapat tentang santri zaman X.

Kata sebagian orang yang dulunya pernah nyantri di sebuah pesantren, santri zaman X adalah santri yang menjaga tradisi lama meski berada di zaman milenial. Artinya, kebiasaan-kebiasaan baik santri harus tetap dipupuk meskipun berada di zaman yang berbeda.

Ulama bersepakat bahwa santri disebut juga Al-Muhafadhotu Alal Qodimis Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah ( Memelihara budaya-budaya tradisional yang baik dan mengambil budaya-budaya baru yang lebih baik).

1# Santri zaman X harus kompetitif (berani bersaing)

Santri zaman X menurut penulis, santri yang wajib mengetahui perkembangan ekonomi dan politik dengan berlandasan Ahlusunnah Wal Jama’ah. Kok bisa? Dan kenyataannya, pemerintahan (ekonomi dan politik) di Indonesia perlu kita ketahui, kita kawal dan kita kritisi.

Berbicara masalah santri, tentu kita berbicara masalah potensi diri yang dikembangkan melalui perspektif kemandirian, juga tak lepas dari pengabdian akhlak dan jiwa keislaman untuk mengaplikasikannya di era kontemporer ini. Di zaman #now ini, santri harus terus berbenah mengasah kemampuannya yang siap menghadapi berbagai tantangan dan siap menjadi para pemimpin masa depan Syubbanul Yaum Rijalul Ghod yang berarti pemuda hari ini adalah pemimpin di masa yang akan datang tanpa melepaskan jiwa pengabdian, akhlak dan jiwa keislamannya.

Sebagai santri, walau hidup di serba keterbatasan, tapi tidak boleh luput dengan informasi di luar, terutama politik. Jadi bahaya kan, kalau santri buta dengan politik? Selain itu, santri zaman X tidak gaduh hanya soal isu pribumi karena masih banyak hal lain yang menjadi informasi penting untuk diserap dan dikaji para santri.

Santri zaman X ialah santri yang tidak anti terhadap pengetahuan-pengetahuan baru, santri yang mau berkarya di bidang keahliannya masing-masing dengan niat untuk berdakwah. Selain itu, di tengah era teknologi yang semakin berkuasa ini, santri juga harus berani melawan hoax serta cerdas menyaring informasi yang belum jelas keshahihannya.

Jangan lupa juga, santri adalah yang berani melawan korupsi dan memberantas para koruptor!
Santri harus percaya diri dan senang diskusi. Dengan diskusi, santri bisa menyerap berbagai informasi yang menjadikannya tidak sekedar ikut-ikutan atau taqlidul a’ma.

2# Santri zaman X harus berjiwa nasionalis, jihadis dan religius

Santri yang hidup di zaman X harus mempunyai jiwa yang mencintai tanah air dan rela mati berkorban demi kedaulatan tanah air.

Memupuk rasa nasionalisme dan menggelorakannya dalam aktualisasi kebangsaan adalah salah satu aktualisasi yang dibutuhkan bangsa di era zaman X. Dengan kata lain adalah jihad membangun bangsa menjadi lebih baik. Sebagaimana para pendahulunya yaitu para ulama yang berperang melawan para penjajah tanah air.

Sekarang perang secara fisik sudah tidak ada di negeri ini, Indonesia sudah merdeka. Jadi santri zaman X harus mempertahankan kemerdekaan itu dan mengisinya dengan prduktiftas tinggi dan akhlak mulia.

Kesungguhan dalam membangun bangsa mesti ditunjukkan dan dibuktikan oleh semua komponen bangsa. Di sinilah urgensi ruh jihad mesti hadir di semua sendi kehidupan bernegara dan di setiap diri anak bangsa.
Ulama, kalangan pesantren, lembaga pendidikan Islam, dan institusi ke-Islaman lainnya mesti digandeng dalam upaya ini. Baik melalui pengajian di masjid, forum keagamaan, pendidikan di sekolah dan pesantren dan media lainnya.

Kalangan Islam, baik dari pesantren, ustadz, pendidikan Islam dan lainnya juga penting pro aktif mengajarkan dan menggerakkan ruh jihad pembangunan. Konteks jihad membangun di masa kini adalah bagaimana peran umat dan konsep Islam dalam pengentasan kemiskinan, pemberantasan korupsi, penanggulangan terorisme dan radikalisme, keadilan ekonomi, peningkatan iklim kompetisi global dan lainnya.