KH Abdul Hamid Sosok Ulama dengan Sejuta Karomah

oleh -
KH Abdul Hamid Pasuruan, Ulama dengan sejuta karomah

Karomah kelima, hal ini dialami oleh santrinya juga yang bernama Said Ahmad. Dia justru seolah ingin menguji kewalian Kiai Abdul Hamid. Said Ahmad ingin tahu, apakah Kiai tahu bahwa dirinya ingin diberi makan olehnya.
Tatkala si santri sampai di pesantren milik sang Kiai, kebetulan saat salat lsya sudah masuk. Dia pun ikut salat berjamaah.

Ketika shalat jamaah selesai Said Ahmad tidak langsung pulang, melainkan menunggu sampai jamaah pulang semua. Lampu teras rumah Kiai Hamid pun sudah dimatikan, pertanda bahwa penghuni rumah sudah siap istirahat. Dengan demikian, dia pikir, niatnya berhasil, yaitu keinginannya untuk ditawari makan oleh Kiai tidak diketahui.

Lalu si Said pun melangkahkan kakinya meninggalkan masjid. Ternyata tahu-tahu dari rumah Kiai Hamid ada yang melambaikan tangan. Dengan perasaan ragu, dia pun mendekatinya. Ternyata tuan rumah sendiri yang memanggilnya.

Kata Kh Abdul Hamid sembari tersenyum“Makan di sini ya,”. Dia pun diajak masuk ke ruang makan. Di sana hidangan sudah tersaji. “Maaf, lauknya seadanya,” kata Kiai santai. “Sampeyan tidak bilang-bilang, sih.” Said tersindir. Dan sejak itu dia percaya, Kiai Hamid adalah wali. Sebenarnya masih banyak karomah Kh Abdul Hamid yang lain, namun penulis belum sempat kumpulkan.

Karomah keenam, suatu ketika di Klaten Jawa Tengah tempat Kh Abdul Hamid dilahirkan pernah dihebohkan dengan sosok misteriuas yang tak lain adalah Kh Abdul Hamid. Sosok sejuta karomah itu bikin pengajian rutin padahal ia sudah wafat beberapa tahun sebelumnya. Sebagaimana yang kami kutip dari media beritasantri, Sabtu (3/3).

Sebagaimana pengajian rutian pada umumnya di daerah-daerah, Kh Abdul Hamid bertugas sebagai penyampai tausyiah kepada para jamaah. Suatu saat kayai yang penuh karomah ini beberapa pekan tidak dapat menghadiri pengajian tampa diketahui alasan jelasnya. Akhirnya ada salah satu tokoh warga yang mencari tahu tentang keberadaan Kh misterius itu, yang kemudian dikabarkan bahwa sosok yang sebelumnya pernah mulang ngaji itu sudah lama wafat dan diberitahukan bahwa kuburannya berada di Pasuruan Jawa Timur.

Namun pada awalnya masyarakat yang pernah ikut pengajiannya di Kelaten itu tidak percaya terhadap berita itu, disangkanya berita itu hoax (bohong). Sehingga mereka dengan rasa ragu dan penasaran pergi ke Pasuruan untuk melihat langsung kuburan beliau.

Tibalah mereka di depan alun-alun Pasuruan, ketua rombongan langsung memandu rombongan yang kemudian digiring ke pemakaman yang ada di sebelah masjid itu. Dan situlah para jamaah menangis sejadi-jadinya karena dengan langsung mereka menyaksikan makam yang bertuliskan Kh Abdul Hamid.