Ketua SorBan (Ansor Banser) Klarifikasi Mars ‘Yaa Lal Wathan’ di Masjidil Haram

oleh -1.178 views

Ketua SorBan (Ansor Banser) Klarifikasi Mars ‘Yaa Lal Wathan’ di Masjidil HaramSantriNow xxx Ketua Umum SorBan (Ansor Banser) Yaqut Cholil Quomas (Gus Yaqut) klarifikasi polemik lantunan mars ‘Yaa Lal Wathan’ oleh jamaah SorBan (Ansor Banser) NU di Masjidil Haram saat jalani ibadah Umroh.

Gus Yagut menjelaskan, bahwa lantunan mars ‘Yaa Lal Wathan’ adalah spontanitas yang muncul dari jamaah SorBan (Ansor Baner) NU saat berjalan bersama-sama. Sebagaimana dilansir kumparan, Selasa 27/2/18.

“Jadi, syair Yaa Lal Wathan yang dikumandangkan Banser di Mas’a (tempat sa’i) itu murni spontanitas. Hal itu muncul dari kebiasaan yang selama ini terus dikumandangkan oleh sahabat-sahabat Banser di Tanah Air,” penjelasan Gus Yaqut saat dihubungi kumparan (kumparan.com), Selasa (27/2).

Gus Yaqut melanjutkan bahwa lantunan mars ‘Yaa Lal Wathan’ sebagai bentuk rasa cinta Banser kepada tanah air sekaligus prihatin dengan situasi Indonesia selama ini. “Mereka perhatian atas situasi yang terus dirasakan mengancam persatuan bangsa.

Ketika sa’i itu, ada ruang kosong sekitar 20 meter menjelang bukit marwa. Di situlah spontanitas muncul. Sekali lagi, karena semata-semata kecintaan kepada Tanah Air. Jadi sama sekali tidak ada muatan politis,” jelas Gus Yaqut.

Bahkan, lanjut Gus Yaqut, dirinya tidak menduga kalau aksi spontanitas Banser NU saat ibadah sa’i mendapat respons negatif dari Pemerintah Arab Saudi.

“Nah, jika apa yang muncul dari spontanitas itu dianggap mengganggu hubungan diplomatik Indonesia dan Arab Saudi tentu kami tidak pernah menduga akan sampai segitu,” katanya.

Pada waktu Banser NU melantunkan mars ‘Yaa Lal Wathan’ para askar (petugas keamanan) tidak melarang, justru mereka menikmati sambil senyum bahkan sempat ada yang mengambil foto.

“Beberapa askar di sana senyum-senyum dan mengambil foto rombongan. Dan saat itu, tidak ada teguran dari mereka,” terangnya.

Tetapi, ungkap Gus Yaqut, jika lantunan tersebut mengganggu hubungan diplomatik kedua negara, tentu pihaknya meminta maaf.

“Ada spirit kebangsaan dan spirit membawa Islam ramah dan rahmah sebagaimana yang dipraktikkan oleh muslim di Indonesia ke seluruh belahan dunia, termasuk di Saudi,” tutupnya.