Sabda Nabi Muhammad SAW: Saya Diutus Kedunia Bukan untuk Melaknat Seseorang

oleh -
Sabda Nabi Muhammad saw: Saya Diutus Kedunia Bukan untuk Melaknat Seseorang

SantriNow [] Rasulullah SAW pada saat membebaskan kota Mekkah (Fathu Makkah) dimana peristiwa ini terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H. Nabi Muhammad SAW beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekali lagi tanpa pertumpahan darah sedikit pun.

Seandainya Rasulullah mau membantai mereka para pembenci Nabi kala itu, tentu bukan hal yang sulit. Tinggal Nabi bilang kepada sahabatNya yang bernama Umar bin Khatthab, beres. Tapi Nabi tidak mau berbuat demikian, kata Nabi “agama Islam bukan agama balas dendam”.

Begitu mulianya akhlak Rasulullah SAW. Malah pada waktu itu, semua tawanan yang ditawan oleh pasukan Islam dibebaskan, dan harta rampasannya diberikan kepada mereka, sampai-sampai sahabat sedikit iri pada mereka yang diberi harta rampasan.

Para sahabat matur kepada Nabi, “wahai Nabi ! mengapa engkau berikan semua harta rampasan kepada mereka padahal mereka bukan umat Muslim, sedangkan kami bersusah payah untuk mendapatkan harta rampasan itu, dan ternyata kami tidak dapat bagian apa-apa” apa jawab Nabi.

“apakah selama ini saya tidak mencintai kalian, apakah selama ini saya berpaling dari kalian, dan cintaku kepada engkau sekalian melebihi harta rampasan yang kuberikan pada mereka.” akhirnya mereka para sahabat manut dan minta maaf.

Sebab itulah, kita sebagai umat yang mengagungkan Rasulullah, yang berharap dapat syafaat-Nya, pantaskah ucapakan kotor, melaknat orang lain yang tidak sepaham dengan kita, membenci orang yang tidak pernah minta makan pada kita?”

Semoga kita semua yang lahir di zaman now dan sebelumnya dijauhkan dari sifat sombong, merasa diri paling benar, dan enggan introspeksi diri. Semoga kita semua mati dalam keadaan husnul khatimah.

Cerita yang lain. Sayyidina Ali RA, suatu ketika berkhutbah, tahu-tahu ada orang yang mencaci maki beliau, lalu Sayyidina Husen putra beliau tidak terima, “wahai ayahku Ali, mengapa engkau tidak membalasnya, megapa engkau diam, balas dia, dia sudah keterlaluan memfitnah engkau,?

Kata Sayyidina Ali RA, “wahai Husen, apakah kakek engkau, Nabi Muhammad pernah mencaci maki dan melaknat? Apakah saya sebagai ayah mu pernah mencaci maki? Dijwab oleh Sayyidina Husen “tidak wahai ayah”. Lalu kamu ikut siapa?

Redaksi cerita di atas merupakan ungkapan penulis yang diserap dari ceramah seorang Habib []