di , ,

Santri Ikut Lomba Baca Kitab Fathul Qorib, yang Dipelajari Taqrib

Santri Ikut Lomba Baca Kitab Fathul Qorib, yang Dipelajari Taqrib

SantriNow [] Ada seorang santriwati yang mau ikut lomba baca kitab kuning tingkat Kabupaten. Sebelumnya sudah diberi tahu bahwa si santri akan diikutkan lomba baca kitab Fathul Qorib. Sehingga dia belajar mati-matian siang malam. Pas malam harinya, sebelum besoknya terjun ke medan lomba, si santri ditanyak oleh ustadznya tentang seberapa siapkah dia untuk tampil dalam lomba besok.

Ustadz: Kamu sudah belajar semua yang akan dilombakan besok nak?
Santri: Sudah ustadz

Rupanya si santri ini memang sudah benar-benar siap untuk tampil di lomba baca kitab besok harinya. Dan kelihatannya dia sangat percaya diri. Juga di tangannya memang terselip lembaran kitab Fathul Qorib itu.

Ustadz:  Coba saya uji sekarang!
Santri: Monggo tadz kulo siap (ia tad silahkan, saya siap)
Ustadz: Ayo sekarang jelaskan fasal tentang batalnya shalat!
Santri: Bismillahirrahmanirrahim, ‘فصل في عدد مبطلات الصلاة’ (fasal ini menerangkan tentang beberapa hal yang membatalkan shalat) dan seterusnya

Pada saat si santri mulai membaca, ternyata yang dibaca bukan Fathul Qoribnya, melainkan Taqribnya.

Ustadz: Ya Allah nak, kamu mulai kemarin belajar Taqrib?
Santri: Ia tadz, kan saya memang ikut lomba kitab Taqrib.
Ustadz: ‘Setahu saya kamu itu diikutkan lomba Fathul Qorib bukan Taqrib’ kelihatannya muka si santri mulai kebingungan dan berusaha mencari kejelasan tentang status kitab yang dilombakan untuk dirinya besok. Akhirnya dia tanya ke Ustadzah yang mendaftarkan, dan memang benar, bahwa si santri ikut lomba kitab Fathul Qorib.

Santri: Aduh gimana nih, gimana ni tadz, saya tidak sempat membacanya.
Ustadz: Ya tidak apa-apa nak, mau gimana lagi. Sekarang kamu fokus saja belajar kitab Fathul Qorib, mumpung masih ada sisa waktu. Cari kata yang kira-kira kamu kurang ingat dan cobak itu dihafalkan.

Santri: Ia tadz. Tadz saya kurang faham tentang ini.
Ustadz: Ok. Saya jelaskan itu sekarang.

Lomba sudah dimulai
Si santri ternyata dapat nomer urut kedua puluh. Dia kelihatannya terus belajar, dan terus belajar. Akhirnya setelah menunggu cukup lama, tampil juga ke depan juri yang sudah berjejer di depan.

Juri: silahkan baca ” فصل في امور تخالف فيها المراة والرجل “(Fasal tentang beberapa perbedaan antara perempuan dan laki-laki dalam shalat)

Santri: Bismillahirrahmanirrahim Faslun…..

Pada awal bacaannya, si santri ini cukup lancar dan jelas ritmenya sesuai harapan. Namun sayang, di tengah-tengah bacaan, dia meloncati beberapa kalimat lantaran banyak makna yang tidak diketahui, sampai akhirnya selesai bacaannya. Sehingga kemudian dewan juri beralih kepada sesi tanya jawab.

Juri: ‘Silahkan jelaskan tentang kalimat ini’, juri menunjuk kalimat tertentu yang ternyata kalimat itu adalah beberapa kalimat yang tadinya memang sengaja tidak dibaca oleh sin Santri karena tidak tahu artinya. Ya udah si santri cuma diam dan sedikit bingung. Akhirnya si juri bilang ‘ya sudah cukup’

Santri: Wassalamulaikum warahmatullahi wabarokatuh.

Hikmah yang dapat diambil dari cerita di atas
Pertama: Pentingnya menangkap informasi secara benar. Karena jika informasi yang didapat itu keliru, maka jelas akan merugikan. Sehingga apa yang sudah dipersiapkan sejak awal itu terasa sia-sia akibat dari salah menerima informasi.

Kedua: Perlunya ketelitian dalam menanggapi informasi. Dalam kasus di atas, jelas ada kekurangan ketelitian. Karena dalam satu kitab Fathul Qorib itu juga tersirat kitab Taqrib. (Ftahul Qorib adalah syarah dari kitab Taqrib).

Ketiga: Kurangnya evaluasi. Akibat kurangnya evaluasi dalam mempersiapkan hal tertentu dalam konteks di sini adalah lomba baca kitab kuning Fathul Qirib. Sehingga jika ada kesalahan informasi bias secepatnya dirubah sejak awal. Kalau sudah seperti kasus di atas kan kacau balau. [as]

BAGAIMANA MENURUT KAMU?