Film ‘G30S/PKI’ Perlukah Diputar Kembali, Jawab; Tidak Perlu

oleh -

SantriNow xx Dalam sepuluh hari terakhir ini media sosial diramaikan dengan issu terkait pemutaran film G 30 S/PKI. Dari issu itu kemudian muncul komentar yang bernada sinis, kenapa musti diputar kembali. Kalau ini ditanyakan kepada Jendral Gatot Nurmantyo jawabannya supaya masyarakat tidak lupa dengan kejadian yang sangat memilukan itu. Artinya dengan begitu dia berharap hal yang serupa tidak terjadi di belakang hari. Kami bukan pelupa pak.

Sebagaimana dilansir kompas.com, Panglima TNI Gatot Nurmantyo itu lah yang mengintruksikan langsung terkait pemutaran film G 30 S/PKI, alasannya seperti yang penulis tulis di atas itu. Namun pertanyaanya kemudian, apakah masyarakat dengan mudah menerima alasan Pak Jendral itu. Sebagaimana diketahui bahwa masyakat masih sulit melupakan apa lagi harus hadir kembali PKI-PKI baru.

Bahkan kata pak Jendral itu, pemutaran film G 30 S/PKI itu merupakan ide presiden Jokowi. Dia bilang ‘luar biasa ide Pak Presiden’.  Di media yang berbeda juga ada berita bahwa ide president itu didukung oleh ketua MPR yaitu Pak. Zulkifli Hasan, katanya ‘menonton film model lama atau baru silahkan, ini kan pelajaran sejarah’ Maka sampai di sini seakan clear masalah, karena yang memiliki ide adalah President, dan dapat dukungan dari Jendral dan Ketua MPR.

Tapi sebagian pengamat seperti  Budi Irawanto akademisi ilmu komunikasi UGM, mengatakan bahwa film yang berjudul ‘Penghianatan G30 S/PKI merupakan propaganda Orba yang ingin mendiskreditkan sebagian kelompok dan mengheroikkan Suharto sebagai penguasa tunggal yang bisa menumpas para penghianat bangsa itu.

Film itu Soeharto sebagai sosok pahlawan yang tidak bisa dibantah. Perannya begitu menonjol hingga menyingkirkan tokoh yang lain,” kata Budi saat berbincang-bincang seperti yang dilansir di detik.com, Selasa (19/9/2017).

Film Pengkhianatan G 30 S/PKI merupakan sebagian propaganda Orde Baru untuk meracuni pikiran masyarakat mengenai peristiwa 1965 melalui sudut pandang militer. Kekejaman dalam proses penculikan jenderal yang kemudian dimasukkan ke Lubang Buaya didramatisasi agar mengiakan operasi terhadap simpatisan PKI. Padahal sesuai dengan hasil autopsi mayat jenderal korban penculikan tidak menemukan siksaan sebagaimana yang diadegkan dalam tayangan film itu.

Penulis buku ‘Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer Dalam Sinema Indonesia’ ini mengungkap bahwa masih banyak film propaganda Orde Baru yang ditayangkan oleh nasional itu (TVRI), sebagai satu-satunya siaran televisi waktu itu. Modelnya bisa berupa sinetron mengenai pembangunan atau yang lain.

Atas dasar inilah penulis tidak setuju pemutaran film G 30 S/PKI itu. Yaitu karena sekarang zaman sudah canggih dimana informasi sudah bersliweran di mana-mana. Tinggal ketik saja di pencarian google sudah ratusan informasi mengenai film G 30 S/PKI itu. Apalagi film yang dibintangi Amoroso Katamsi dkk itu kurang imbang.

Kalau Pak President, Pak Jendral dan Pak Zulkifli Hasan menyatakan perlunya pemutaran film itu , ya maklum mereka kan generasi lama yang lahir sebelum tahun sembilan puluhan. Sementara kita generasi muda sudah lahir di zaman yang serba canggih, ya gak perlu lah film yang gitu-gitu itu. Apalagi jelas film itu bermuatan politis. [as]