5 Orang Terkaya Indonesia yang Masa Kecilnya Melarat

oleh

SantriNow xx Sahabat santri yang baik hatinya dan tidak sombong, langsung saja ya, penulis kali ini akan mengupas seputar orang kaya di Indonesia, dimana mereka pada masa kecilnya adalah orang-orang kismin alias miskin. Loh, kok bisa kaya, ya jawabannya hanya satu, keberuntungan. Tulisan ini kami ambil dari merdeka.com, Jumat (15/09/17)

Sahabat santri, per akhir 2016, orang terkaya di Indonesia masih didominasi oleh muka-muka lama. Nampaknya akan sulit bagi pesaing untuk merebut posisi pertama dalam waktu dekat. Kecuali salah satu  dari mereka wafat atau meninggal. Tipsnya sebenarnya mudah yaitu “kepepet”, ini bukan kata penulis, melainkan kata bos Sidomuncul yang masuk daftar orang kaya Indonesia tahun 2016 sampai sekarang.
Sahabat santri, ternyata orang kaya seperti mereka itu tidak semuanya dari latar belakang orang kaya. Sebagaimana yang akan penulis uraikan ini.
Banyak orang sukses di dunia bahkan di Indonesia yang berasal dari keluarga biasa bahkan jauh dari kata berkecukupan.
Berkat kerja kerasnya dan doa yang mereka panjatkan sehingga mereka beruntung dan akhirnya menjadi kaya. Mereka mampu mengumpulkan pundi-pundi rupiah lebih banyak ketimbang rata-rata orang Indonesia, dan jadilah nama mereka masuk dalam jajaran orang terkaya.
Siapa saja mereka?

1 Dahlan Iskan

Ia merupakan anak orang miskin yang sekarang kaya raya. Sampai-sampai sangking miskinnya, Dahlan kecil harus tidak pakai sepatu ke sekolah yang jarak tempuhnya jauh dari rumahnya. Namun, Dahlan pada akhirnya mampu menjadi pengusaha kenamaan di Indonesia lewat bisnis media, real estate, hotel, dan perusahaan yang berkaitan dengan listrik. Kalau sahabat santri ingin baca profil lengkapnya, ya cari saja di google, banyak.

2. Sudono Salim

Sudono Salimyang dikenal dengan sebutan Liem Sioe Liong asalnya dari desa kecil di China. Dia pertama kali menginjakkan kakinya ke Indonesia pada 1939.

Karena hidupnya serba kekurangan, dia sempat mengalami putus sekolah dan menjajakan mie. Sesudah tinggal di Indonesia, dia mulai merintis usaha sebagai pemasok cengkeh bagi pengusaha rokok di Kudus dan Semarang. Dia pun berhasil membangun kerajaan bisnis Grup Salim yang membawahi beberapa perusahaan termasuk Indofood.
Pada 2006, dia masuk peringkat 10 orang terkaya Indonesia. Masa lalunya serba kekurangan, dia bahkan harus membantu orangtuanya membayar utang ke rentenir. Dia pun hanya mengenyam pendidikan hingga lulus SD karena tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah.

3. Eka Tjipta Widjaja

Pada saat berusia 37 tahun, Eka pindah ke Surabaya. Setelah berjuang keras, akhirnya usaha yang dijalankannya mulai sukses besar. Eka pun akhirnya memiliki kebun kopi dan kebun karet di Jember. Keberhasilan Eka dalam menjalankan bisnisnya tidak lepas dari prinsip hidup yang dipegangnya. Bagi dia, kesulitan apa pun yang dihadapi dalam menjalankan bisnis, asal punya keinginan untuk berjuang, pasti semua kesulitan bisa diatasi. Hidup hemat dan tidak berfoya-foya.

Nama Ciputra sangat terkenal di dunia properti. Dia sukses mengembangkan Jaya Group, Metropolitan Group, dan Ciputra Group. Ciputra lahir dan tumbuh hingga remaja di Parigi, Sulawesi Tengah. Karena ditinggal oleh sang ayah, Ciputra kecil harus merasakan hidup yang serba sulit.

4. Ciputra

Ciputra dan kelompok perusahaan pengembangnya telah menangani sekitar 11 proyek perkotaan elit termasuk Bumi Serpong Damai, Pantai Indah Kapuk, Puri Jaya, Citraraya Kota Nuansa Seni, Kota Taman Bintaro Jaya, Citra Indah, Pondok Indah, Citra Raya Surabaya, Kota Taman Metropolitan, Kota Baru Sidoarjo, dan Citra Westlake City yang tersebar di Jabodetabek, Surabaya, dan kota baru Westlake City yang berlokasi di Vietnam.

5. Chairul Tanjung

Usaha ayahnya ditutup secara paksa karena bertentangan dengan penguasa saat itu. Ayahnya adalah seorang wartawan yang mengelola usaha penerbitan surat kabar skala kecil. Karena usahanya tutup, rumah tempat tinggal mereka pun harus dijual. Karena kepintarannya, Chairul berhasil masuk ke Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia.

Namun, karena mereka masih kekurangan, orangtuanya kesulitan membayar uang kuliah. “Waktu saya memulai, banyak waktu tapi tidak punya uang. “Lama-lama jadi besar punya uang, tidak punya waktu.