Kiat Shalat Tarawih ala Pedagang Peracangan

oleh -
SantriNow | Bagaimana jika seorang berjamaah kepada Imam yang Tarawehnya 4 salam alias 8 rakaat, bagaimana cara menambahnya? Maka jawabannya gampang, tinggal ditambahi. Ia memang tinggal ditambahi tapi kalau semua jamaah sudah buyar masak shalat sendirian, kan malu?
Ini sekedar tips. Mohon maaf kalau tak berkenan. 
Misalkan Langgar atau Masjid di sekitar kita menerapkan shalat tarawih dengan jumlah rakaat 8 namun kita inginnya shalat 20 rakaat. Tidak baik rasanya meninggalkan Langgar di dekat rumah lantaran terkait adab ketimuran atau kepantasan. Tapi semisal disuruh nambah di rumah malas atau berat bawaanya.
Solusinya
Kalau ingin 20 rakaat, niatkan saja, dilanjutkan tarawih lagi di rumah atau tetap di Masjid itu setelah bubar. Kalau ada yg tanya, kok gak witi? jawab saja, saya berniat mau nambah tarawih nanti. Itu kalau ada yang tanya, kalau tidak ada yang diam saja, rokoan apa atau minum kopi, jika ada. Baca juga: 9 Keistimewaan Shalat yang Sebaiknya Diketahui Umat
Enaknya dilanjutkan di rumah apa di Langgar itu ya? klau di rumah pasti berat sekali kalau bagi penulis, karena pulang dari Langgar selalu di atas jam 10 malam, ikut nemanin takmirnya tadarus dan beres-beres Langgar, pasti ngantuk dan. Terus andai memisahkan diri dari jamaah ketika akan witir, agaknya kan aneh ya? apa tidak boleh sehabis witir saja tarawihnya?.
Penulis barusan baca dari Majelisrasulullah.org . Maka seandainya seorang sudah tarawih lalu witir 3 rakaat, shalat lagi tahajud 2,4,8,10 rakaat silahkan saja karena kalau ditotal tetap ganjil jumlahnya. Tapi kalau ia witir 2X, maka jumlahnya kalau ditotal menjadi genap ini hukumnya makruh bukan haram. Jadi tidak ada yang haram namanya shalat malam, mau witir 2X, 3X, 10X tapi yang paling baik jadikan total shalat malammu jumlahnya ganjil.
Jika anda pada awalnya merasa tak kuat terhadap tekanan, silakan witir dulu. Namun sebaiknya Anda pun berdakwah pula, sehingga setelah dirasa kuat, maka sebaiknya witir belakangan. Walau terasa asing awalnya (ini butuh perjuangan menjaga perasaan), namun insya Allah orang-orang akan maklum kemudian. Sampaikan sesopan atau sehalus mungkin agar tak menyinggung perasaan kenapa Anda tak berwitir dulu. Katakan anda ingin menambah shalat malam atau tarawih nanti, dsb.
Jika anda merasa berat bila sudah sampai di rumah (ini sangat manusiawi), maka lakukan saja sebelum pulang selagi masih di Langgar tersebut. Tak usah pula sembunyi-sembunyi. Dan tidak ada masalah.
Ada beberapa orang mengikuti jejak Anda. Apa lagi Anda pendatang.
Ada baiknya Anda bersandar kepada ulama-ulama di sekitar. Yang Anda dapat berkeluh kesah. Atau Anda ajak pengajian di Langgar Anda itu.
Namun setiap jalan panjang pasti harus dimulai dengan langkah awal. Memang mungkin rasanya berat namun msalah kecil semacam itu harus disikapi dengan cara yang baik dan benar.
Bagaimana kalau misal ikut mereka saja yakni 4 salam atau 8 rakaat, ya tidak apa-apa. Namun kalau bisa sesuaikan dengan nurani Anda, dengan catatan jangan sampai menyinggung perasaan mayoritas, bisa-bisa dicap tidak sopan oleh mereka. Tiru saja cara Imam Syafii ketika shalat subuh di rumah Imam Malik dengan tidak kunut.
Semoga tulisan ini bermanfaat untuk umat Islam dimanapun berada, sampaikanlah kebaikan walau hanya sedikit. Ciptakan kenyamanan buat orang lain dan keluarga. Dilansir dari gusdayat.com, Selasa (6/6) [ad]