Cerita Panglima TNI Itu Menyayat Naluri Komlomerat Untuk Berinfak

oleh -

SantriNow | Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, melangsungkan buka bersama dengan anak yatim dan masyarakat umum di Hangar Skadron Pendidikan (Skadik) 102 Lanud Adisutjipto Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Minggu (4/6/2017). Gatot juga memberikan bingkisan buat 1.000 anak yatim.

Agenda buka bersama ini adalah serangkaian safari tarawih Ramadan Panglima TNI, setelah sebelumnya sudah mengawalinya di Iskandar Muda Aceh.

“Kunjungan di Lanud Adisutjipto Yogyakarta ini merupakan bagian safari Ramadan Panglima TNI,” ujar Komandan Lanud Adisutjipto, Marsma TNI Novyan Samyoga, Minggu (4/6/2017).
Selain memberikan 1.000 bingkisan untuk anak yatim, safari Ramadan Gatot Nurmantyo juga dihadiri 3.500 orang dari berbagai kalangan.

Setelah buka bersama dan memberikan bingkisan ke anak yatim, seusai tarawih Jenderal Gatot langsung menuju Universitas Ahmad Dahlan (UAD), di Jalan Ring Road Selatan Bantul, DIY. Di sana Jenderal Gatot akan memberikan kuliah umum yang dikemas dalam pengajian Ramadan di Masjid Islamic Center UAD.
Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo, Dalam sambutannya, membaca sebuah cerita sikap kedermawanan seorang perempuan tua sederhana dari desa.

Cerita yang dibacakan oleh Gatot sebenarnya bukan cerita baru, melainkan sudah menyebar cukup lama di grup-grup pertemanan. Cerita itu mengisahkan percakapan seorang ibu tua dengan anak tunggalnya. Cerita yang dibacakan itu dalam Bahasa Jawa, lalu diterjemahkan secara langsung oleh Gatot Nurmantyo. Baca juga: Arahan Cerdas Panglima TNI Terkait Isu Agama di Indonesia

Cerita itu diawali dari protes si anak yang menganggap si ibu membuat mubazir makanan karena hanya hidup berdua tapi selalu memasak dalam jumlah banyak. Makanan itu sering dibagi-bagikan kepada tetangga dan orang-orang yang lewat.

Si ibu menilai bahwa makanan yang dimasak lalu diberikan kepada orang lain itu bukanlah mubazir, melainkan sebagai shodaqoh. Namun si anak tetap saja memprotes, ketika kondisi keluarga yang cuma pas-pasan namun ibunya melakukan shodaqoh setiap hari.

“Nak, kita ini sudah dapat jatah rezeki masing-masing, tapi kewajiban kita kurang lebih sama; sebisa mungkin memberi kepada orang lain. Kaya itu keluasan hatimu untuk memberi kepada sesama, bukan soal kumpulan harta benda. Kalau harus menunggu hartamu menumpuk baru memberi, kamu nanti merasa selalu punya kebutuhan sehingga tidak bisa memberi dengan ikhlas,” kata si ibu dalam cerita yang dibacakan Panglima TNI.

“Simbokmu ini kaya, Nak. Tiap hari punya makanan berlebih, bisa memberi dan harus memang harus berbagi. Bahwa ibumu tidak bergelimang harta, itu bukan ukuran. Yang penting kita tidak kekurangan, bisa makan, bisa beribadah, kamu bisa sekolah dan jadi orang berguna. Betapa besar anugerah Tuhan kepada ibumu yang tidak pernah mengenyam bangku sekolah ini,” lanjut si ibu.

Kepada si anak, ibu tua itu lalu menceritakan pesan dari almarhumah ibunya, yang tak lain adalah nenek si anak. Tujuannya untuk diberikan kepada tetangga yang kekurangan atau tamu yang datang. Selain itu juga selalu menyediakan minuman di depan rumah untuk orang-orang yang lewat hendak bepergian jauh.

“Ah, Ibu… Perempuan yang tak pernah sekolah dan menurutku miskin itu hanya belajar dari ibunya sendiri dan dari kehidupan. Dia bisa begitu menghayati dan menikmati cintanya kepada sesamanya dengan caranya sendiri,” gumam si anak setelah menyadari semuanya.

“Sementara aku, manusia modern yang bangga belajar kapitalisme dengan segala hitung-hitungan untung rugi, selalu khawatir hidup kekurangan, lupa bahwa Tuhan yang menjamin hidup setiap makhluk bernyawa. Ibuku benar, kaya itu kemampuan hati untuk memberi kepada sesama, bukan tentang mengumpulkan untuk diri sendiri,” lanjut si anak. Dilansir dari detik.com, Ahad (4/6) [ad]