di , ,

Perang Mulut Soal Tanah Abang yang Lagi-lagi Semraut

SantriNow | Awal Mei, pasar Tanah Abang telah disorot karena kekacauannya. PKL kembali menjual di pinggir jalan raya membuat jalanan macet. Soal kekacauan ini sempat dikeluhkan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya yaitu Basuki Tjahaja Purnama sejak dulu.

Upaya Ahok untuk merelokasi PKL ke Blok G tidak sepenuhnya dilaksanakan. Ahok mengakui bahwa Blok G yang dibangunnya tidak memiliki fasilitas parkir yang memadai sehingga pedagang kaki lima kembali menjual di jalan. Soal Ahok yang pusing menghadapi pedagang kaki lima di Tanah Abang diungkap mantan Gubernur Plt, Sumarsono. “Menurut saya, Pak Ahok juga pusing karena Blok G tidak layak,” katanya di Balai Agung, pada tanggal 11 Februari.

Momentum pasar kacau biasanya lazim terjadi sebelum dan selama bulan puasa terjadi. Pemprov DKI Jakarta mengaku telah berusaha meminimalisasi kekacauan ini antara lain dengan menambah personil Satpol PP. “Mari kita tanyakan 100 ya kita cinta 100. Kami ingin tertib dan saya bertanya kepada semua orang dan pedagang di sana, mohon hormati hak dan kewajiban masing-masing,” kata Djarot di Balaikota, (15/5).

Djarot mengatakan akan melakukan tindakan tegas terhadap pedagang kaki lima Tanah Abang yang kembali beroperasi. “Jangan berpikir bahwa gubernur sudah berubah, belum buktinya belum (masih bisa ditangani), jadi jangan campur semuanya,” kaya Djarot, di Jakarta Barat, (13/5).

Sementara itu, Walikota Jakarta Pusat, Mangara Pardede mengutip dari Antara menilai pihaknya per hari digunakan untuk menurunkan 300 Satpol PP. Berbeda dengan Djarot, Mangara menilai penambahan Satpol PP tidak akan berdampak signifikan di Tanah Abang karena kekacauan yang disebabkan 400.000 penumpang yang keluar Stasiun Tanah Abang. Sesuai dengan hukum pasar, di mana ada kerumunan, maka ada pedagang kaki lima yang berkumpul.

Mangara mengatakan solusi untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan membangun jembatan penghubung (skybridge) antar stasiun dan Blok G Tanah Abang. Skybridge yang akan digunakan bagi pedagang kaki lima untuk menjual, tidak numpuk di pinggir jalan. Konsep ini sama dengan SkyBridge Cihampelas di Bandung.

Suasana Pasar Tanah Abang mendorong anggota DPRD Jakarta, Abraham Lunggana ankat bibir. Saat relokasi pedagang kaki lima buatan Ahok pada 2015, Lulung berada di garis depan pertahanan pedagang kaki lima. Apa yang dilakukan Ahok menurut Lulung memang akan menuai kegagalan.

“Relokasi, jadi kalau melepas Tanah Abang, kenapa targetnya tiga tahun dan masih ada orang berjualan, karena tidak ada relokasi hari ini, tidak ada solusinya,” kata Lulung di Taman Amir Hamzah, Matraman, Jakarta Pusat ( 21/5).

Lulung menilai selama Pemrov ini tidak pernah melakukan komunikasi yang baik dengan PKL sebelum melakukan penggusuran. Jadi, menurutnya, pedagang kaki lima merasa diusir secara sepihak dan akhirnya kembali berdagang lagi sejak setelah pemilihan DKI memenangkan pasangan Anies-Sandiaga. “Jika ada blok G itu tidak bekerja, bicaralah dengan pedagangnya, jangan lanjutkan, Kalau pelakunya terus, pedagangnya diajak bicara, itu akan menjadi pekerjaan rumah lagi,” kata Lulung.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih, Sandiaga Uno mengemukakan salah satu cara untuk mengatur PKL tanpa harus mengorbankannya, adalah dengan melakukan rekayasa lalu lintas. “Mungkin dari pengaturan jam, mereka mungkin pada jam-jam tertentu terus digerakkan,” kata Sandiaga.

Sandiaga menyebut konsep ini sebagai semacam hari bebas mobil. Menurutnya, cara seperti itu juga bisa mengubah pola konsumen dan terbukti efektif di beberapa negara.

“Mungkin akan ditutup untuk jam-jam tertentu, jadi pembelanja juga akan pola seperti hari bebas mobil, dan itu sudah diujicobakan di London dan di Istanbul,” katanya.

Ia menyebut konsep ini akan mampu mempengaruhi pola konsumen di Tanah Abang juga. Sebab, menurut dia, konsumen selalu mengikuti perilaku pedagang. Untuk itu, dia yakin, bila telah diterapkan, pebisnis bermasalah di Jakarta, khususnya di Tanah Abang, akan diatasi tanpa mengorbankan orang kecil.

Selain itu, Sandiaga juga memiliki cara lain untuk mengatasi vendor jalanan liar, termasuk dengan menggunakan teknologi digital. “Terobosan melalui teknologi dan digital, itulah yang telah menjadi tren di kota-kota besar dunia,” katanya. Dilansir dari tirto.id, Senin (22/5) [as]

BAGAIMANA MENURUT KAMU?