di , ,

Ciptakan Kesepahaman dan Kebersamaan Beragama

SantriNow | Menjaga kerukunan tentu saja tidak bisa dilakukan hanya dengan duduk bersama, dialog dan seminar. Akan tetapi harus melalui upaya yang sangat sistematis dan berkesinambungan. Tidak hanya menjadi multikulturalisme butik. Artinya merayakan kerukunan hanya dengan dialog-dialog tanpa pemahaman yang lebih mendasar, yaitu untuk merumuskan kerjasama atau pro eksistensi. Untuk merumuskan kebersamaan, maka harus dikembangkan sikap kesepahaman dan kebersamaan.

Kalau melihat kenyataan dua tahun terakhir sekarang, ada banyak pertanyaan yang menarik tentang tema ini, antara lain mengenai bagaimana terjadi kesenjangan antara teori tentang peran agama sebagai pembawa kerukunan atau social order dengan realitas empiris seperti kekerasan atas nama agama bahkan konflik atas nama agama. Dan jika bisa didekatkan antara dimensi teori dengan kenyataan empiris tersebut, bagaimana caranya?

Ada suatu contoh yang sangat bagus, yaitu membangun relasi antar umat beragama yang dikembangkan oleh KH. Sholeh Badruddin. Beliau adalah mursyid tarekat Qadiriyah wa Naqsyabandiyah dan beliau memiliki pondok pesantren dan perguruan tinggi, Universitas Yudharta. Visi perguruan tingginya adalah menjadi kampus multikulturalisme. Untuk mengimplementasikan gagasannya ini, maka beliau terbiasa untuk melakukan dialog antar umat beragama. Beliau biasa keluar masuk gereja. Bahkan ketika ada kegiatan pengajian di pesantrennya, maka yang menjadi audiennya adalah umat multiagama. Ada Protestan, Katolik, Hindu, Budha dan juga Kong Hu Cu.

Mereka menyatu di dalam pengajian yang diselenggarakan oleh Kyai Sholeh. Bahkan dalam suatu kesempatan beliau menyatakan akan menjadi penggerak multikulturalisme di tingkat akar rumput, di tingkat masyarakat. Kemudian di level yang lebih akademis.

Kiranya warisan Kyai Sholeh Badruddin ini harus terus disiram dan dipupuk jangan sampai mati. Karena kalau gerakan ini mati alias kalah otomatis yang menguasai Indonesia tercinta gerakan sebaliknya. Yaitu gerakan yang suka caci maki, adu domba sehingga mengancam kebersamaan dalam kebinnikaan yang memang sejak awal dibangun oleh pendiri bangsa ini.

Jadi, bagi para pemuda dan pemuka negeri, jangan tengkar melulu, duduklah bersama dan bangunlah komitmen kesepahaman dan kebersamaan. Jangan hanya karena berbeda agama dan pilihan gubernur kemudian kesepahaman dan kebersamaan jadi korban.

Lagian, malu kepada para pahlawan yang sudah berabat-abat berjuang membebaskan bangsa dari cengkraman penjajah Belanda dan Jepang kemudian mau dirusak hanya gara-gara beda agama dan Pilgub. [as]

Baca juga: Santri Korban Radikalisasi Agama?

BAGAIMANA MENURUT KAMU?