Cara Orang Bijak Menjalani Puasa Ramadlan

oleh -

SantriNow | Ramadhan telah tiba mari kita berpusa, mari kita bergembira karena kedatangan tamu istimewa.

Pertama, Menata Niat
Madzhab Syafi’i, niat puasa wajib harus dilakukan pada malam hari, yakni waktu setelah terbenamnya matahari (maghrib) sampai dengan sebelum terbitnya fajar shadiq (belum masuk waktu shalat subuh). Berdasarkan sabda Rasulullah SAW (Lihat: Hasan Sulaiman Nuri dan Alwi Abas al-Maliki, Ibanatul Ahkam fii Syarhi Bulughil Maram, juz 2, hal. 376):
مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ 
“Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari maka tak ada puasa baginya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Nasai, Tirmidzi, dan Ibnu Majah)
Niat yang demikian itu harus dilakukan setiap malam karena puasa dalam tiap-tiap harinya adalah satu ibadah tersendiri (Nawawi al-Bantani, Kaasyifatus Sajaa [Jakarta: Darul Kutub Islamiyah, 2008],hal. 192).
Sebab pemahaman tentang pentingnya menata niat itulah akan menjadi motivasi. Motivasi kuat akan menyebabkan badan siap dalam menghadapi puasa. Kadar asam lambung orang niat puasa itu lebih rendah dari orang kelaparan. Hal ini karena niat (motivasi) puasa menyebabkan penekanan pusat lapar di otak sehingga siap menahan lapar sampai waktu berbuka.
Kedua, Menjalani Puasa dengan Penuh Kegembiraan 
Orang pintar paham bahwa bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keistimewaan, keberkahan, ampunan dan datangnya hanya setahun sekali. Sebab itulah ia menyambutnya dengan penuh syukur dan gembira.
Hatinya terasa bahagia karena kedatangan tamu kehormatan, sehingga ia memperlakukan Ramadhan dengan amat sangat istimewa. Dia melakukan ibadah-ibadah yang memang dianjurkan oleh sang tamu seperti memperbanyak ngaji Quran, Taraweh, dan sebagainya.
Hari-harinya penuh dengan ketenangan karena memang sebelum Ramadhan ia mempersiapkan apa-apa yang akan dijalani di waktu Ramadhan tiba. Waktu Ramadhan ia tidak terlalu sibuk dengan urusan perut karena sudah tersedia semuanya.
Ia gunakan kesempatan Ramadhan untuk memperbaiki diri, mendekatkan diri kepada Allah. Tambah hari tambah penuh ibadahnya. Sehingga tanpa terasa bulan Ramadhan sudah berakhir. Ia merasa masih sebentar bersama Sang tamu istimewa, ingin hati terus bersama Ramadhan, namun kenyataa tidak bisa dihindari. Ia harus berpisah dengan Ramadhan saat 1 Syawal tiba dan takbir hari Raya Fitra berkumandang.
Saat Ramadhan pamitan pulang, sang tuan rumah merasa kehilangan. Dan harapannya tahun berikutnya Ramadhan mau berkunjung lagi ke dalam hidupnya. Amin. [ac]