Inilah 4 Ulama Indonesia yang Mendunia 10 tahun terakhir

oleh -

SantriNow | Setelah penulis googling mengenai Ulama Indonesia yang mendunia, yang muncul macam-macam. Sehingga penulis berusaha mencari informasi akurat dari website yang selama ini dinilai objektif oleh banyak kalangan. Hasilnya di antaranya:

1. Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, M.A, atau sering dikenal Said Aqil Siroj adalah Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul ‘Ulama periode 2010-2020.

Pendidikan Pesantren: Lirboyo Kediri (1965-1970), Al-Munawwir Krapyak Jogjakarta (1972-1975),
Pendidikan Formal: S3 di Universitas Umm alQura (1994), S2 di Universitas Umm alQura (1987), S1 di Universitas Raja Abdul Aziz.
Karir:  Karir beliu seabrik, mulai dari dosen, penggas Islam Nusantara, penulis buku, penceramah, penasehat, dan lain-lain. Namun yang paling membanggakan adalah gagasannya tentang Islam Nusantara. Dimana Said Aqil mencoba mengenalkan Islam corak Indonesia, Islam yang berbudaya Indonesia, Islam yang ramah, Islam yang toleran.
Oraganisasi: Jelas beluau ketua PBNU dua periode (2010-sekarang). Dan masih banyak lagi organisasi lain yang pernah beliu ikuti dan jadi pengurus di dalamnya.

2. KH. Maimun Zubair (Mbah Mun).

KH. Maimun Zubair adalah seorang ulama yang dilahirkan di daerah Sarang, Rembang Jawa Tengah. Beliau dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1928. Dalam kesehariannya, KH. Maimun Zubair mengasuh Pondok Pesantren Al Anwar yang juga lokasinya berada di Sarang, Rembang Jawa Tengah.

Pendidikan:  Nyantri di Lirboyo Kediri di bawah asuhan KH. Mahrus Ali dan KH. Marzuki Dahlan. Tidak hanya di Indonesia, KH. Maimun Zubair kemudian melanjutkan kelana ilmunya di Makkah Mukarromah pada usia 21 tahun.

Ketika melakukan perjalanan ke Mekkah ini, KH. Maimun Zubair ditemani oleh kakeknya sendiri yaitu KH. Ahmad bin Syuaib. Di Mekkah, KH. Maimun Zubair banyak mengaji kepada ulama-ulama besar seperti Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki, Syekh al-Imam Hasan al-Masysyath, Sayyid Amin al-Quthbi, Syekh Yasin Isa al-Fadani, Syekh Abdul Qodir al-Mandaly dan ulama-ulama lainnya.

Meski sedang mencari ilmu di Mekkah, KH. Maimun Zubair tetap menyempatkan untuk menuntut ilmu kepada Ulama Jawa yang berada di Mekkah seperti Kiai Baidhowi, Kiai Ma’shum Lasem, Kiai Bisri Musthofa (Rembang), Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Muslih Mranggen (Demak), Kiai Abdullah Abbas Buntet (Cirebon), Syekh Abul Fadhol Senori (Tuban) dan beberapa Ulama lainnya.

Dalam catatan sejarah hidupnya, KH. Maimun Zubair tidak hanya mengabdikan diri pada agama saja. Namun beliau juga adalah seorang yang sangat aktif di berbagai bidang sebagai pengabdian beliau kepada negara. KH. Maimun Zubair pernah menjadi anggota DPRD Rembang selama 7 tahun, selain itu beliau juga pernah menjadi anggota MPR RI yang mewakili daerah Jawa Tengah. Kini, beliau masih aktif sebagai Ketua Dewan Syuro Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

3. KH. Musthafa Bisri (Gus Mus)

KH. Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus (lahir di Rembang, Jawa Tengah, 10 Agustus 1944; umur 72 tahun) adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuh Tholibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU.

Ia adalah salah seorang pendeklarasi Partai Kebangkitan Bangsa dan sekaligus perancang logo PKB yang digunakan hingga kini. Ia juga seorang penyair dan penulis kolom yang sangat dikenal di kalangan sastrawan. Disamping budayawan, dia juga dikenal sebagai penyair.  

Pendidikan:  Universitas al Azhar Mesir

Karya Buku: Dasar-dasar Islam (terjemahan, Penerbit Abdillah Putra Kendal, 1401 H). Ensklopedi Ijma’ (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987). Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979). Kimiya-us Sa’aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya). Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung). Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994).

Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993). Mutiara-mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994). Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995). Pahlawan dan Tikus (kumpulan pusisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996).

Mahakiai Hasyim Asy’ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996). Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996). Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995). Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997). Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997).

Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997)  

4. KH. Hasyim Muzadi

Kyai Haji Ahmad Hasyim Muzadi (lahir di Bangilan, Tuban, 8 Agustus 1944; umur 72 tahun) adalah seorang tokoh Islam Indonesia dan mantan ketua umum Nahdlatul Ulama yang menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden sejak 19 Januari 2015. Ia juga pernah menjadi pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam di Malang, Jawa Timur, sebelumnya dia sempat mengeyam pendidikan di Pondok Pesantren Modern Darussalam gontor (1956 – 1962)

Karya Buku: Membangun NU Pasca Gus Dur, Grasindo, Jakarta, 1999. NU di Tengah Agenda Persoalan Bangsa, Logo, Jakarta, 1999. Menyembuhkan Luka NU, Jakarta, Logos, 2002. Sumber: Wikepedia[as]